Feeds:
Posts
Comments

Dalam perjalanan menuju ke coban pelangi… Terlebih dahulu singgah di candi jago, yang terletak di Desa Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini dahulunya bernama Jayaghu. Candi ini menurut Negarakertagama diketahui sebagai salah satu candi pendharmaan bagi Maharaja Wisnuwardhana. Hayam Wuruk disebutkan pernah melakukan kunjungan ziarah ke makam leluhurnya yakni Wisynuwardhana yang dicandikan di Jayaghu atau Jago.

candi Sekalipun Candi jago diketahui sebagai makam Maharaja Wisynuwardhana, namun jika dilihat dari bentuk arsitektur dan ragam hiasnya maka bangunan itu berasal dari zaman majapahit akhir. Pada tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi, misalnya, candi itu pernah diperbaiki oleh Adityawarman. Dan sesudah itu, candi itu tampaknya mengalami beberapa kali pemugaran pada kurun akhir majapahit yakni pada pertengahan abad ke 15.

setelah beberapa menit di Candi Jago sambilan mengambil beberapa foto, kami langsung meranjak ke Coban Pelangi kira-kira 20 km dari candi jago…

coban-pelangi1Coban Pelangi merupakan salah satu wanawisata yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Malang, kawasan ini dikelilingi oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 30 m dan merupakan wisata alam yang masih yang masih belum di kelola sehingga semuanya masih alami, terletek di tengah hutan dan sebelah kanan kirinya ditumbuhi pohon-pohon pinus yang cukup lebat dengan suhu udara antara 190 – 230 Celcius dan termasuk dalam zona BTS.

Untuk mengunjungi coban yang terletak di Sungai Amprong ini, arahkan perjalanan menuju Tumpang, dilanjutkan menuju Desa Gubug Klakah. Hati-hati karena setelah melewati desa, jalan mulai menanjak dan berkelok. Bagi para pendaki gunung Semeru, air terjun ini tidak asing bagi mereka, karena mobil jeep angkutan umum satu-satunya yang membawa mereka dari pasar Tumpang akan melewati lokasi ini. atau jika anda akan melakukan perjalanan dari Tumpang menuju ke gunung Bromo, sebelum masuk pertigaan jemplang (yaitu pertigaan menuju Gunung Semeru dan Gunung Bromo) disebelah kanan jalan ini akan terlihat jelas gapura bertuliskan air terjun Coban Pelangi.

coban_pelangi_07

Setelah membeli tiket masuk Rp.3.100,-/orang dan menyusuri jalan setapak yang menurun serta melintasi jembatan, Anda akan tiba di coban. Paling pas mengunjungi tempat ini di pagi hari karena kabut sering muncul setelah lewat dari tengah hari.

….??

Ternyata senyum itu bukan untukku
tawa itu bukan milikku
perhatian dan sayang itu pun juga bukan milikku
tamaknya hati ingin memiliki semuanya

Polem adalah seorang serdadu yang sudah kenyang ditugaskan di daerah konflik. Oleh tetangganya, Polem dijuluki pahlawan perang. Tapi Polem harus membayar mahal, karena banyak anggota tubuhnya yang sudah palsu akibat luka-luka semasa bertugas di medan tempur. Kaki Polem palsu, tangan palsu dan berbagai anggota tubuh lainnya.

Tapi ada satu kebiasaan Polem yang tak hilang. Yaitu kegemarannya main taruhan. Suatu hari, Polem bertaruh dengan tetangganya, si Robi.

Polem : “Robi, ayo kita bertaruh.”

Robi : “Taruhan apa, Pak Polem?”

Polem : “Saya akan menggigit telinga saya sendiri.”

Robi : “Ah, mana mungkin ada orang bisa menggigit telinga sendiri. Melihat tanpa cermin pun tidak bisa. Apalagi menggigit.”

Polem : “Makanya, taruhan Rp 500 ribu, yuk!”

Robi : “Oke, siapa takut.”

Setelah disepakati, Polem pun melepas telinga palsunya dan menggigit. Robi jelas kesal karena kalah taruhan. Keesokannya, Polem menantang Robi taruhan lagi.

Polem : “Mau taruhan lagi, Rob?”

Robi : “Oke, tapi saya yang pilih jenis taruhannya.”

Polem : “Oke, no problem.”

Robi : “Kalau Pak Polem bisa menggigit mata sendiri, saya bayar Rp 1 juta.”

Robi berani bertaruh seperti itu, karena Polem bisa melihat dengan jelas dan tidak buta. Maka tidak mungkin ia melepas bola matanya. Karena bola mata itu asli.

Tapi dasar Polem si Pahlawan Perang, dia pun tetap nekat.

Polem : “Oke, saya setuju!”

Polem pun segera melepas gigi palsunya, dan menggigitkan gigi itu ke matanya sendiri.

Older Posts »